Zona Nyaman


Aku bukan tipe perempuan mudah merespon laki-laki yang coba mendekati. Setelah sekian purnama, teman akrab bilang, “jangan terlalu cuek sama cowok, dia itu suka sama kamu” akhirnya dari situ aku mulai merespon dia, yang katanya menaruh rasa. Aku tidak ingin pacaran sebenarnya, jadi kami saling komitmen.

Kami menjadi dekat, ikut organisasi yang sama, mengerjakan tugas bersama, sampai sering jalan berdua. Aku mulai terlena dan terhanyut oleh perasaan ini. Aku kira dia hanya dekat denganku saja, ternyata juga dengan teman akrab yang pernah bilang, jangan terlalu cuek sama cowok. Mereka jadian dan tidak lama putus. Aku jadi merasa seperti dipermainkan. Sekarang dia sering menceritakan mantannya itu.

“Yu, kenapa sih perempuan itu sukanya dikejar, terlalu over, pengennya dikejaaar terus.”

“Ya kamunya nggak bisa menempatkan diri sih.”

“Maksudnya gimana?” Andre masih terlihat  bingung, atau pura-pura bingung, cuma dia yang tau.

“Maksudnya, kamu nyoba deketin cewek, tapi ternyata kamu juga ngedeketin cewek lain. Kira-kira, gimana perasaan tu cewek?”

Andre diam, dan aku masih melanjutkan kalimat.

“Jangan cuma nyalahin cewek aja, cowok juga kudu mikir perasaan cewek, gitu.”

Andre masih saja diam.

Cewek mana sih yang mau diperlakukan demikian. Aku sudah berkomitmen untuk cuma dekat dengan satu cowok saja, eh dia malah dekat sama cewek lain juga. Mendengar pertanyaan Andre barusan, membuatku berpikir ‘masa bodoh’ aku sudah lelah, dan tidak mau ribet lagi memikirkan cowok tidak jelas apa maunya, juga capek menebak-nebak perasaannya yang sesungguhnya kepadaku. Sekarang bukan lagi perasaan suka kepadanya, tapi jengah dan kesal.

***

Hari ini pertama kali aku menginjakkan kaki ke kota pelajar, jogjakarta. Selama ini hanya mendengar cerita dan kisah menarik dari orang-orang yang tinggal di sana untuk belajar. Qodarullah aku pun kini bisa menuai kisah baru dengan orang-orang yang baru pula. Meski menanggung pahit karena harus membiasakan diri dengan kebiasaan baru. Jenis makanan yang sama sekali bukan tipe lidahku, fasilitas tidak serba ada seperti saat di rumah. Juga perasaan yang dulu tumbuh untuknya kini mulai terkikis oleh waktu. Selamat tinggal putih abu-abu. Aku kini melangkah maju.

 

Awalnya aku pikir jauh dari orang tua itu enak, karena bisa melakukan ini dan itu tanpa mendengar kalimat “nggak usah” atau kalimat-kalimat penolakan yang membuatku nyesek sendirian. Meratap karena merasa dikekang. Ternyata bukan demikian yang sebenarnya, itu bentuk kasih sayang yang sangat aku butuhkan kala jauh seperti ini, bentuk penjagaan mereka kepada anak bungsunya.

 

“Yu, jalan-jalan yok.” Lia menawari tawaran yang menggiurkan. Lia teman se kamar di asrama. Dia gadis cantik dari keluarga berada. Dia asli Musi Banyuasin, hanya saja dari kecamatan yang berbeda. Mimpinya menjadi seorang bidan membuatnya dipertemukan denganku.

Tanpa berpikir panjang, aku bilang ayok. Menjelajah kota indah nan bersejarah ini pasti sangat menyenangkan. Aku akan tau banyak hal, candi, pantai, gunung, pematang sawah yang menakjubkan, melihat matahari tenggelam di atas bukit. Pesona jalan Malioboro saat malam. Benar-benar membuatku jatuh cinta. Aroma sate dan jagung bakar menyeruak membuat nafsu jajan untuk segera diselesaikan agar tidak mengamuk. Alasan. Hanya tidak bisa menahan diri atas godaan sebenarnya, dompet yang semakin hari semakin menipis menciut sedih.

Sudah beberapa bulan di sini, aku mulai berpikir, uang kiriman yang tinggal minta saja, nafsu jalan-jalan dan belanja masih menggebu. Bagaimana kalau orang tua di rumah bersusah payah mencari sedang aku menghambur-hamburkan demi terpenuhinya hasrat sesaat. Ini hanya soal keinginan yang sulit dikendalikan. Banyak hal yang seharusnya uang kiriman digunakan, semisal untuk bayar kebutuhan kuliah dan makan.

“Yu, hapemu bunyi dari tadi kok nggak diangkat sih, ortu nelpon ntar jadi khawatir.” Ternyata Lia memperhatikan hape yang sengaja aku abaikan. Dia tipe orang yang suka memperhatikan hal-hal lalu diutarakan. Seperti, sering menegurku yang malas makan.

Di jogja serba murah, hanya saja rasa malas yang mahal tidak terkira, masih terbawa suasana di rumah yang serba sudah ada, tidak perlu repot masak atau pergi keluar untuk belanja dulu. Jauh dari orang tua memang tidak semenyenangkan yang aku bayangkan. Melatih diri untuk mandiri, menjaga diri sendiri tidak semudah yang ada dalam pikiran.

“Biar Li.”

“Emang siapa sih? Ciee....” Goda Lia.

“Apa sih.” Aku menepis tangannya yang mencubit lengan.

“Eleh, mantan ya? Ngajak balikan? Ehem ehem.”

“Mantan itu kalo pernah pacaran.”

“Lah terus gebetan? Eh bentar, jangan-jangan kamu... duh nyesek banget sih.”

“Diiih... apaan sih.” Ah biasa aja. Batinku.

“Deketnya lama tapi jadiannya sama orang lain. Hahaha.” Lia menertawakan ucapannya sendiri. Sebenarnya Lia betul. Tapi serius aku nggak nyesel nggak jadi pacarnya dia.

Apapun yang terjadi dalam hidup adalah pembelajaran bagi diri, berlaku buat yang mau mengambil pelajaran sih. Aku putuskan untuk tidak lagi mengulangi perbuatan ‘bodoh’ katakanlah. Fokus dengan cita-cita, masa depan, dan membahagiakan kedua orang tua.

Cinta akan datang di saat yang tepat. Semoga Allah pertemukan aku dengan lelaki baik. Dengan harapan itu, aku harus memantaskan diri untuk kelak di sandingkan dengan yang baik. Usaha-usaha memperbaiki diri tidak juga mudah, banyak tantangan dan godaan yang datang. Teman-teman di asrama banyak yang pacaran, menceritakan pacarnya seperti indah betul.

Ah sudahlah, setan selalu pandai membuat maksiat terasa nikmat. Mengelabui manusia dengan trik yang sama sekali tidak disadari kalau itu hanya akan menjerumuskan pada kesengsaraan, penyesalan, dan kerugian. Tidak pacaran, anggap saja sedang berpuasa. Bukankah waktu berbuka itu begitu nikamt? Meski hanya seteguk air bening dan sepotong roti. Jika dilakukan karena Allah, pasti akan mudah melakukannya.

Semoga aku, kamu, siapa saja yang berjuang untuk menuju perubahan yang lebih baik dan menguntungkan dunia juga akhirat, Allah mudahkan.

Enam bulan aku di sini, wabah corona mulai menghampiri di kota-kota besar bahkan di desa-desa. Wabah yang katanya berasal dari Wuhan,  yang merupakan ibu kota provinsi Tiongkok. Masuknya virus corona ke Indonesia dari WNI yang bekerja di sana kembali pulang. Hebat sekali virus ini, membuat sekolah-sekolah libur panjang, perguruan tinggi sepi penghuni. Yang rindu orang tua jadi bisa berlama-lama pulang kampung, atau terjebak karantina wilayah sehingga tidak bisa bertemu dengan keluarga yang berada jauh. Huru haranya virus ini menjadi perbincangan di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia.

Aktifitas belajar sekarang bukan lagi tatap muka, tapi daring (dalam jaringan) yang selalu nyaris bikin pusing. Para orang tua mendadak darting (darah tinggi). Apalagi di desa, kalau turun hujan bakal mati lampu dan sinyal juga seperti melayang tertiup angin, entah ke mana.

Kuliah jauh dari orang tua memang benar-benar membuatku merasa keluar dari zona nyaman. Banyak hal baru yang ditemui dan orang-orang baru pula dengan karakter beragam. Aku lebih bisa mengenal diri sendiri dengan lebih baik, mengetahui tentang apa yang diri inginkan dan cari dalam hidup. Ya, selama ini aku merasa aman menjalani hari-hari tanpa kekhawatiran di rumah dekat dengan orang tua, namun itu stagnan. Gitu-gitu saja. Tidak membawa kemajuan apapun.

Ternyata bukan cuma smartphone atau gadget saja yang perlu upgrade. Diri juga perlu di-upgrade biar makin baik dan mengesankan ke depannya. Keluar dari zona nyaman—keluar dari kebiasaan-kebiasaan yang tidak membawa perubahan ke arah lebih baik lagi, dengan cara merantau atau melakukan kegiatan tidak biasa.

Di awal-awal memang sangat berat dan menyedihkan, tapi perlahan pasti akan baik-baik saja. Percayalah, diri akan tumbuh semakin kuat, lebih kritis dan praktis. Selamat berjuang menemukan jati diri, jauh dari orang tua.

 

//Puspita Deyu. November 2020//

 

Komentar