Pencapaian Hidup

 



Bismillah. Tak terasa Ramadan sudah yang kelima harinya. Tetap jaga imun dengan konsumsi makanan yang sehat ya. Jaga iman dengan mengerjakan amalan-amalan secara konsisten, yang sudah menjadi agenda harian wajib. O, ya kalian sudah buat to do list amalan apa saja yang akan mengisi hari-hari di bulan Ramadan ini kan? Pasti dong, hmm. Saya yakin teman-teman merancang dengan baik dan mengerjakannya penuh sukarela.

Kalau bicara soal pencapaian tertinggi, rasanya seperti berjalan menuju tembok.  Pencapaian tertinggi itu... berarti tidak ada yang lebih tinggi lagi. Seolah telah selesai dan tidak ada yang perlu dicapai lagi. Saya berpendapat bahwa, pencapaian tertinggi bagi seorang muslim ataupun muslimah adalah bisa meraih Husnul Khatimah, dan berakhir di surga. Tapi semua itu tidak mudah.

Tapi bagaimanapun saya tetap akan beritahukan apa sih yang sudah dicapai oleh seorang Puspita Deyu? Di bulan Ramadan yang mulia ini, Qodarullah di hari kelima saya  sudah menyelesaikan sepuluh juz tilawah Al-Qur’an. Maaf, mungkin bagi teman-teman ini hal biasa dan bukan pencapaian yang perlu dibanggakan. Sebab memang banyak yang sehari bisa lima juz atau bahkan khatam 30 juz.

Namun bagi seorang saya, ini adalah suatu penghargaan, sesibuk apapun ternyata Allah masih sayang dengan memberi rahmat berupa tetap bisa berinteraksi dengan Al-Qur’an, ditambah pula jumlah bilangannya. Kenapa saya merasa ini adalah sebuah pencapaian? Karena hal ini, tidak saya capai di bulan-bulan lain. karena juga, saya memang membuat target sehari dua juz di bulan Ramadan.

Apa sih Kak tipsnya istiqomah baca Qur’an? Ini pertanyaan yang sama dari saya kepada seorang Ustadzah. Begini kata beliau, pertama gabung dengan komunitas yang pesertanya selalu  mengingatkan. Seperti one day one juz, one day one half dan lain sebagainya. Yang kedua itu, paksakan. Pada point ini sungguh sangat tidak mudah ya, harus kuat dan sabar dengan godaan kemalasan.

Setelah sharing itu, saya jadi merenung. Berhubung tidak ada yang akan menolong saya di akhirat selain Al-Qur’an, maka saya harus menjalin hubungan baik dengannya. Meski dalam keadaan terpaksa. Tapi saya yakin, kalau terpaksa ini lambat laun berakhir menjadi terbiasa.

Nah, pencapaian yang lain adalah menemukan jati diri. Saya terbilang selalu gagal menemukan jati diri, keadaan seolah membunuh karakter yang ada pada diri saya. Setelah kejadian demi kejadian datang, itu seolah membuka mata saya, membuka paradigma pikiran. Oh, ternyata saya ini begini dan musti begini. Senang sekali rasanya, meski itu terlambat diketahui. Semoga semakin dewasa, menjadi pribadi yang bersyukur dan lebih sabar. Mohon doanya ya teman-teman. 

Baru-baru ini saya menekuni dunia kepenulisan dan menjadi blogger pemula. Harapannya supaya bisa terus berkarya dan kelak menjadi timbangan amal kebaikan.

Saya tidak membicarakan pencapaian prestasi gemilang yang terlihat mata. Hanya bicara soal pencapaian rasa. Rasa bahagia yang harus selalu tumbuh dalam diri. Intinya, sebuah deadline dan atau targetan yang terlaksana dengan baik, maka saya menyebutnya sebuah pencapaian.

Saya bangga dan bahagia atas apa yang ada pada diri saya.

 

Salam semangat.

Salam sayang dari saya.


Komentar